13 May 2010

Islamic and Moral Value System

13 May 2010
PENDAHULUAN

Islam adalah agama rahmatal lil’alamin yang diturunkan tidak hanya sebagai rahmat bagi umat Islam saja namun diturunkan untuk seluruh alam termasuk juga alam jin. Oleh karena itu, menjadi tugas seorang muslim untuk selalu mendakwahkan kembali makna Islam sebagai rahmat. Dapatkah Islam yang mengajarkan arti penting dari makna kedamaian, keharmonisan, keselamatan dan kasih dan sayang dapat dirasakan oleh semua umat.? atau memang Umat Islam sendiri yang tidak mau berbagi dengan yang lain.?

Dalam tahapan ini yang menjadi problem adalah bagaimana kita mendakwahkan makna Islam itu sendiri. Dengan senantiasa berfikir radikal sebagaimana yang terfrem dari pola pikir filsafat, maka dalam ini untuk menghasilkan pola pikir yang radikan dalam berdakwah menjadi hal yan dibutuhkan, maka perlunya mempelajari filsafat dakwah sebagai cara mendapatkan pemahaman radikal dan sistematis dalam melakukan kegiatan dakwah.

PENGERTIAN MORAL / ETIKA

Moral berasal dari bahasa Latil (Mores) yang berarti sebagai kebiasaan atau adat kebiasaan. Kebiasaan yang baik hendaknya menyelaraskan dengan kehidupan yang umum dan universal hendaknya, Zakiah Darojat (1995:63).

Adapun menurut terminologi moral adalah kelakuan yang sesuai dengan ukuran-ukuran (nilai-nilai) yang ada dalam masyrakat, yang timbul dari hati nurani dan bukan sebuah paksaan yang disertai deengan rasa tanggung jawab, dalam hal ini bahwa kepentingan umum menjadi skala prioritas diatas kepentingan pribadi, sehingga dalam Islam moral mejadi salah satu baro meter akhlak, karena hal ini menyangkut sikap jujur, berkeadilan rasa tanggung jawab dan sikap pengabdian, karena hal sangat penting dalam moral Islam dan harus mendapatkan perhatian khusus.

SISTEM NILAI

Adapun dalam hal ini HM. Arifin (1994:139) ia memberikan definisikan sistem nilai sebagaimana "suatu tatanan yang terdiri dari dua atau lebih komponen yang satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi atau saling bekerja sama dalam satu kesatuan atau keterpaduan yang bulat dan berorientasi pada nilai dan moral Islam, Dalam Islam nilai dan moral mengandung dua katagori bila ditinjau dari segi normativ yaitu suatu sikap baik atau buruk, benar atau salah, hak atau batil.

Sehingga sistem moral dan nilai dalam Islam adalah berpusat pada upaya mencari Ridho Allah Swt, yakni dengan mengendalikan hawa Nafsu negatif dengan menggali potensi kebaikan untuk berbuat kebaikan.

MAKNA ETIKA DAKWAH

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “Etika” diartikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk atau ilmu tentang hak dan kewajiban moral. Dalam batasan pengertian itu maka etika bisa duniawi dan bisa ukhrawi. Sebab baik buruknya sesuatu masih perlu bahasan tertentu. Misalnya di mata Si A baik belum tentu di mata Si B. Adapun makna kata dakwah adalah.

Sudah kita fahami akan makna dari kata dakwah yang mengandung makna mengajak, atau menyeru, namun apabila makna dakwah tersebut disandarkan dalam bahasa Indonesia yang notabennya bukan bahasa wahyu akan menjadi suatu makna yang negatif sebagaimana yang terdapat dalam kamus bahasa Indonesia, makna dakwah diartikan sebagai suatu kegiatan Propaganda, kendati makna dakwah sendiri bermakna Positif, sebuah aktifitas untuk mengajak setiap orang untuk senantiasa mengikuti petunjuk jalan Allah Swt, meningkatkan ibadah dan pengabdian pada yang sang Kholiq.

Dari pengertian yang ada semakin jelas bahwa kajian dan tinjauan akan etika dakwah adalah moral umum dalan tinjuan agama, apa dan bagaimana seharusnya suatu etika dakwah tersosialisasi dalam pribadi dainya.

Etika Dakwah
Dalam mengemban dakwah seseorang hendaknya berprinsip pada kode etik, sehingga tidak menimbulkan hal-hal yang kurang baik, maka dari itu hal yang harus dijadikan perhatian dalam berdakwah adalah:
  •  Memahami hakikat dakwah dan apa yang diajarkan dengan landasan ilmu yang benar. Sebagaimana yang tertuang dalam Al Qur'an surat Yunus ayat 108.
  •  Tidak memaksakkan kehendak, hal ini sebagaimana yang tertuang dalam Al Qur'an surat Yunus ayat 99, yang artinya :
"dan jikalau Tuhanmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu hendak memaksa ada manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semua "(Yunus : 99)
  • Jangan mempersulit masalah tapi mengedepankan kemudahan, sebagaimana ketetapan Allah Swt, dalam Al Qur'an yang atrinya :
“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagimu
(Al baqarah : 185)
Adapun menurut salah seorang ulama di era sekarang ini yaitu
DR. Yususf Qardowi adalah sebagai berikut bahwa dalam berdakwah maka harus memperhatikan:

a. Harus memelihara hak orang tua dan kerabat, tidak diperbolehkan menghadapi orang tua dan sanak kerabat dengan perlakuan kasar

b. Memperhatikan faktor umur, tidak sepantasnya seorang da'i mengabaikan perbedaan faktor umur seorang mad'u, bukankah dalam Islam mengajarkan sikap hormat menghormati, sayang menyayangi sebagaimana sabda Rasulullah :
Tidak termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi anak-anak,tidak menghormati orang tua,tidak mengenali orang berilmu
(HR Ahmad)

c. Memelihara hak orang-orang terdahulu, maksudnya kita melupakan orang telah berjasa dalam menebarkan ilmu pengetahuan atas segala jasa-jasanya.

IDEALISME DAKWAH

Ta’shil Da’awi artinya (orisinilitas da’wah). Menjaga kemurnian atau keaslian kegiatan da’wah. Dalam pengembangan da’wah, orisinilitas harus selalu terjaga dan terpelihara, sehingga memiliki landasan yang kuat dan kokoh untuk terus bergerak. Dan da’wah sangat terkait dengan takwin (pengembangan), maka ketika kita bicara pada tataran konsep, kader dan aktivis harus berpegang teguh pada idealisme da’wah. Karena seberat apapun ujian dalam da’wah, selama kader memiliki pegangan yang kuat dalam melangkah, maka idealisme da’wah akan tetap terjaga dan terpelihara,adapun yang termasuk dari ta'shil da'awi adalah :

1. Ta’shil Syar’i (kemurnian syariat). Kader dan aktifis harus kembali kepada kemurnian dan keutuhan syariat. Tidak ada fiquh da’wah tanpa fiquh syari’ah, karenanya ruang lingkup gerak da’wah harus berada dalam bingkai syari’at. Jadi, ketika kita bicara tentang syariat tidak lebih pada Ahkamul khomsah (hukum yang lima), yaitu halal, haram, wajib, makruh, dan sunnah.

2. Ta’shil Al Fikri (keaslian fikroh). Kader dan aktifis harus menjaga kemurnian dan orisinilitas fikroh, konsep atau manhaj. Jadi, ketika kader dan aktifis hendak berpikir, mengemukakan wacana, berpendapat, menelurkan ide serta gagasan, maka harus berlandaskan Al Qur’an dan sunnah Rasul, bukan sekedar beropini atau berbicara tanpa punya landasan yang jelas.

3. Ta’shil Haroki (kemurnian berharoki). Berbicara tentang da’wah adalah gerak aktifitas atau kerja. Bukan wacana apalagi gosip. Da’wah adalah harok yang berarti bekerja aktif.

Revivalisme Dakwah Islam

Revilvalisme dapat diartikan sebagai gerakan untuk membangkitkan/menghidupkan kembali perasaan keagamaan yang kukuh, pelaku revilvalisme disebut revivalis. Dalam perbendaharaan bahasa Arab revivalisme disebut dengan gerakan tajdid yang berarti pembaruan gerakan tajdid ini adalah suatu proses dimana yang dengannya komunitas Muslim (ummat) menghidupkan kembali kerangka sosial, moral dan agama dengan kembali kepada dasar-dasar Islam yaitu Al-Qur’an dan al-Sunnah
Sebagai pembatasan masalah disini adalah bagimana dakwah dilaksanakan dengan membangun kerangka berfikir/tashawwur berlandaskan etika tanpa menghilangkan identitas sebagai muslim.

KESIMPULAN

Dalam melakukan sesuatu yang baikpun kita tetap hendaknya memperhatikan etika-etika yang berlaku,sebagaimana kegiatan dakwah, sebuah aktifitas mulia yang senantiasa dilakukan oleh nabi dan Rasulpun kita sebagai orang biasa harus tetap memperhatikan norma dan etika tersebut. Hal ini diharapkan dengan hal tersebut bisa menghasilkan apa yang menjadi haparan dari kegiatan dakwah tersebut dan juga untuk menjaga perasaan seorang mad'u. Bukankah dalam Islam pun hal ini menjadi perhatian serius, bukan para nabi dan Rasul dalam menjalankan kegiatannya senantiasa memperhatikan aspek-aspek ini?.maka kita sebagai seorang yang tidak lepas dari khilaf maka harus memperhatikan etika dakwah supaya mad'u bisa kita hantarkan kepada jalan yang Allah Swt, kehendaki.

Related Post:

9 comments:

marsudiyanto said...

Ikut belajar disini...
Makasih sudah berkunjung ke blog saya

DianRibut said...

kunjungan pertama,jangan lupa kunjung balik ya. .

richoyul said...

salam kenal balik bro, alhamdulilah dapet ilmu di sini

kekah said...

assalamualaikum, numpang baca2 ya trims

ArenaBetting.com dukung fair play FIFA world cup AFSEL 2010 said...

trims banget udah mampir diblog saya...semangat sellau...sob...ringan banget blognya siiip deh...langsung jadi follower deh....

ducky said...

mudah2an dakwahnya istiqamah, terus menerus...

jazakallah atas ilmunya..

Bunglon Blog said...

wah terimakasih atas sharing ilmunya sobat, berbagi untuk memberi agar senantiasa bermanfaat
Sukses slalu!

Yasiin said...

Assalamu alaikum....
salam kenal mas 0_0

van said...

informasi yang bagus. semoga anak2 bangsa menjadi anak yang bermoral dan berakhlak mulia

Post a Comment

 

Author

My photo
Kehidupan adalah permainan puzzle, kadangkala mudah untuk mencari potongan puzzle yang kita butuhkan, kadangkala kita kesulitan, bingung, bahkan panik sehingga seringkali kita memaksakan potongan puzzle yang tidak tepat. yang menyebabkan kesempurnaan menjadi ternodai hanya dengan setitik tinta. maka ketika puzzle telah tersusun sempurna Kita baru mengerti apa maksud Sang Pencipta (Sesungguhnya akal manusia sangat terbatas).

Posting Terbaru

About This Theme